Sabtu, 09 Mei 2026

Greetings from 2026

Halooo. 2026 iniiii. Sat, May 9 2026. Keenari Space, opposite of TSM. Hari ini pertama kali ikut Teachers Reading Club. Yeeeee positif vibes semua disiniii. Udah diajakin Dewi dari bulan2 kemarin, Alhamdulillah baru bisa skrg yagesyaa wkwkwk. Terakhir nulis di blog tahun 2013 apa 2014 yaa. And then 12 years later I'm back wkwkwk. Many things happen, banyakkkk bgt yg berubah dan yang tetap. People come and go :( Happy and sad and anything in between. Di 2026 semua sudah serba digital, internet connected dan AI. Yesss AI, Artificial Intelligent. Di tahun ini juga ku enzooy bgt jadi warga Bandung Utara. Wkwkwkwk. Tiap hari kerja PP Sayati - Ciumbuleuit, lalu pulangnya gym di Fithub Setiabudi. Yes, gyyymmm. Di tahun 2026 ini gw udah mau jalan 4 tahun olah raga. Anjaaayyyy. Padahal dulu selama sekolah - kuliah gak suka olah raga bgt. Hahahhaa. People changes. Sampai tahun 2026 juga ku udah bertemu banyakkkk orang2 baru yang beragam. Hahahaaha. Alhamdulillah sih, besides kepercayaannya apa, mereka orang2 baik. Beneran baik. InsyaAllah tahun ini dan tahun2 berikutnya lebih happy, tenang, dan sehat yak. Yo bisa yooooo KDA.

Selasa, 21 Mei 2013

I'm Back!!!


Beberapa waktu lalu, Saya membuat blog ini untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah. Sejak mata kuliah itu selesai, blog Saya terbilang sepi. Sekarang, lewat blog yang telah Saya buat, Saya berusaha untuk belajar menulis. I'm Comin' !!!

Selasa, 01 Januari 2013

 
Proses perubahan kurikulum sudah memasuki tahap uji publik, sudah banyak masukan yang diberikan terkait rencana perubahan kurikulum. Meskipun demikian, untuk anggaran yang akan digunakan untuk pengadaan buku dan persiapan guru akan oleh DPR RI belum disetujui sampai Panitia Kerja (Panja) Kurikulum memberikan rekomendasi. Sedangkan anggaran untuk pelaksanaan uji publik di berbagai kota yang ada di Indonesia tidak menjadi permasalahan oleh Panja Kurikulum.

Menurut salah satu anggota komisi X DPR RI, pola penganggaran untuk pelatihan guru masih membingungkan. Ini disebabkan pihak Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kemendikbud mengaku tidak ada penganggaran untuk pelatihan guru dalam rangka persiapan kurikulum baru, yang ada anggaran untuk bimbingan teknis.

Berdasarkan data yang dipegang oleh Panja Kurikulum dari Kemendikbud, anggaran kurikulum 2013 ini mencapai Rp 684,4 milyar yang terbagi menjadi Rp 513,8 milyar dan Rp 170,6 milyar. Dengan rincian sebagai sebagai berikut :

Direktorat PSD untuk kurikulum: Rp 269,3 milyar
Direktorat PSMP untuk kurikulum: 130,1 milyar
Direktorat P2TK untuk bimbingan teknis guru: Rp 114,4 milyar
Total: Rp 513,8 milyar

Direktorat PSMA: 3,6 milyar
Penyediaan buku pegangan guru: Rp 4,4 milyar
Penyediaan buku silabus kurikulum: Rp 4,4 milyar
Penyediaan buku siswa: Rp 84,1 milyar
Direktorat PSMK untuk penyediaan buku pegangan guru: Rp 3,7 milyar
Penyediaan buku silabus kurikulum (SMK): Rp 3,7 milyar
Penyedin buku siswa (SMK): Rp 66,7 milyar
Total: Rp 170,6 milyar.
*) Sumber: Kompas (20/12/2012)

Dengan adanya perubahan kurikulum baru anggaran yang dibutuhkan pun juga membengkak dan belum tentu kualitas pendidikan Indonesia 2013 akan meningkat. Ade Haryani seorang praktisi pendidikan berpendapat, peningkatan kualitas pendidikan Indonesia untuk tahun baru 2013 sebaiknya lebih kepada pemerataan pendidikan dan pembebasan biaya pendidikan bagi siswa kurang mampu di seluruh wilayah.

Ade Hrayani seperti dilansir dari Antara (26/12/2012), juga berharap agar pemerintah benar-benar tepat sasaran dalam memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan dana tersebut jangan digunakan untuk kegiatan yang mengada-ada.

Banyak kalangan berpendapat perubahan kurikulum tidak selalu menjadi prioritas dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Metode pembelajaran, proses pembelajaran, tenaga pengajar berkualitas, dan fasilitas belajar yang akan banyak berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan. Pemerintah mengeluarkan anggaran biaya besar untuk perubahan kurikulum 2013, tetapi hal itu belum tentu akan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Rabu, 26 Desember 2012

2013 Guru Tak Perlu Lagi Repot Menyusun Silabus



Pemerintah atau Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) akan mengambil alih pembuatan silabus pada kurikulum 2013. Alasan silabus akan disusun oleh Kemendikbud karena pelaksanaan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di lapangan selama ini masih kedodoran. Ini disebabkan oleh kemampuan guru yang beragam dalam membuat silabus. 

Mendikbud, Muhammad Nuh juga menilai ada guru yang tidak bisa menyusun silabus. Ini dikatanya pada Jumat (21/12/2012) di Jakarta seperti dilansir dari Kompas.com. "Variasi sekolah dan guru itu luar biasa. Ada yang bisa membuat silabus, ada juga yang tidak. Jadi, kalau guru diwajibkan bikin silabus, yaremek," kata Nuh.

Pada kurikulum baru yang akan diterapkan Juni 2013, guru tak perlu repot-repot lagi untuk membuat silabus untuk pengajaran terhadap anak didiknya. Silabus merupakan program pembelajaran yang akan dijadikan dasar untuk membuat rencana pembelajaran.

Pembahasan silabus sendiri sudah dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud pada awal Desember. Penyusunan silabus melibatkan para guru, dosen dan ahli pendidikan. Setelah silabusnya rampung disusun, selanjutnya dilakukan proses penggandaan buku pelajaran.

KTSP memberikan peluang kepada sekolah dan guru untuk menyusun silabus dan menjalankan proses pembelajaran dianggap membuat pengawasan dan kontrol pendidikan jadi sulit. Kurikulum yang saat berjalan membuat sekolah dan guru berwenang menyusun silabus dan menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan cara yang diketahuinya sendiri-sendiri.

Mendikbud juga menilai dengan beragamnya kemampuan guru dalam menyusun silabus menyebabkan banyak bermunculannya Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan konten tak sesuai yang berdampak pada anak didik. Itu disebabkan kemampuan guru dalam membuat soal latihan untuk anak didik kadang terbatas sehingga menggunakan LKS sebagai pilihannya.

"Munculnya LKS itu kan karena guru kadang susah membuat soal. Kami juga tidak bisa apa-apa karena kan sudah diserahkan pada sekolah," kata Mohammad Nuh. 

Asah Kreatifitas Anak dengan Tidak Banyak Melarang





Memiliki anak yang kreatif adalah dambaan setiap orang tua. Dengan kreatifitas yang terus berkembang akan menjadikan anak kelak menjadi orang yang sukses. Dalam mengasah kreatifitas juga ditentukan oleh perilaku guru dan orang tua terhadap anaknya. Sikap dan budaya orang tua yang banyak melarang anak dapat bedampak pada anak yang menjadi takut untuk berkreasi. Begitupun dengan sikap yang tidak mentolerir kegagalan, itu menyebabkan anak akan lebih suka berada dalam zona nyaman.



Ketika anak mendapat larangan dari orang tua, seperti kata 'jangan' atau 'tidak boleh', itu akan mematikan kreatifitas anak. Mereka akan cenderung tumbuh menjadi pengekor. Tidak ada inisiatif dan takut salah, mereka hanya akan mengikuti kebiasaan atau petunjuk orang lain. Anak-anak tidak berani mengembangkan diri dan mengeluarkan ide kreatif karena ada kekhawatiran tidak sesuai dengan apa yang diajarkan guru di sekolah atau orang tua di rumah.



Dalam proses belajar mengajar, misalnya anak sering dimarahi karena jawaban tidak sesuai dengan yang guru jelaskan, padahal jawabannya juga benar. Akhirnya anak-anak ini mencari aman dengan menjawab pertanyaan sesuai keinginan guru. 



Oleh sebab itulah para guru harus mulai bisa menerima jawaban dari anak-anak yang mungkin berbeda tetapi juga tidak salah. Yang terpenting pula, guru menghargai proses anak menemukan jawaban. Dengan diberi kesempatan dan dihargai, anak-anak akan berani berkreasi, tidak takut mengeluar ide kreatifnya, berimajinasi, dan mengambil resiko. Anak-anak akan menciptakan sesuatu yang baru.



Sama halnya dengan orang tua, jangan terus memarahi anak. Misalnya ketika anak mendapatkan nilai jelek, orang tua terus memarahi. Orang tua harus mencari tahu kesulitan atau kendala yang dihadapi anak. Ajak mereka untuk mencari solosinya bersama-sama. Jangan sampai karena takut nilai jelek, anak-anak melakukan berbagai cara agar dapat nilai bagus tanpa mempedulikan sekitar.



Guru dan orang tua harus membiasakan anak untuk tidak mudah menyerah dalam mencapai sesuatu. Tidak hanya itu, anak didorong untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah kecil yang sedang dihadapi. Jika anak gagal tidak terus dimarahi tapi justru mereka harus diberi semangat terus untuk bangkit dan anak mau mencoba lagi. Mereka akan berusaha mencari hal yang baru lagi, mengeluarkan kreatifitasnya untuk mencapai hasil yang diinginkan.